Minggu, 26 Februari 2017

ASEAN Fisheries Consultative Forum ke-6 dan ASEAN Sectoral Working Group on Fisheries ke-22

Published in Berita Selasa, 22 Juli 2014 09:47
Rate this item
(3 votes)

Pertemuan ASEAN Fisheries Consultative Forum (AFCF) ke-6 dan ASEAN Sectoral Working Group on Fisheries (ASWGFi) ke-22 telah dilaksanakan pada tanggal 23-27 Juni 2014, di Hotel Corus, Kuala Lumpur, Malaysia.Pertemuan AFCF ke-6 dihadiri oleh perwakilan negara–negara anggota ASEAN yang terdiri dari Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam. Pertemuan juga dihadiri oleh Sekretariat ASEAN dan Interim Sekretariat AFCF. Selanjutnya pertemuan ASWGFi ke-22 dihadiri oleh perwakilan dari seluruh negara-negara anggota ASEAN (ASEAN Member State – AMS), ASEAN Sekretariat, SEAFDEC, Marine Fish Farmers Association of Malaysia, FAO, Islamic Development Bank, ASEAN-U.S Maximizing Agriculture Revenue through Knowledge, Enterprise Development and Trade (ASEAN-U.S MARKET) dan USAID.

 

Filipina selaku Interim Sekretariat untuk periode 2013 – 2014 menyampaikan hasil-hasil yang telah dicapai dan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti berdasarkan pertemuanAFCF ke-5 pada tanggal 22-23 Juli 2013 dan ASWGFi ke-21 pada tanggal 24-26 Juli 2013 di Vientiane, Laos. Kedua pertemuan tersebut telah mengadopsi the revised of AFCF Framework (2013-2015) dan Priorities Activities for ASEAN Cooperation in Fisheries under the Strategic Plan of Action (SPA) 2013-2015. Dalam pertemuan AFCF ke-6 ini adalah melakukan reviu peran dan fungsi AFCF dengan mengacu kepada AFCF Framework. Pertemuan menyepakati bahwa di masa mendatang AFCF diharapkan secara mandiri mampu mencari pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan, khususnya untuk pengembangan kapasitas sumber daya kelautan dan perikanan. Adapun mekanisme pendanaan dapat melalui penyampaian proposal kepada beberapa organisasi regional/internasional dengan persetujuan ASWGFi terlebih dahulu.

 

Pertemuan menekankan bahwa AFCF berbeda dengan organisasi internasional lainnya seperti NACA dan SEAFDEC. Sekretariat ASEAN menjelaskan bahwa AFCF bekerja di bawah mandat ASEAN khususnya ASWGFi, dimana AFCF bertanggung jawab untuk melapor kepada ASWGFi, sedangkan organisasi regional/internasional lainnya tidak bertanggung jawab untuk melapor kepada badan ASEAN. AFCF di masa mendatang, sebagai forum konsultasi AFCF dapat mengundang tenaga ahli dari organisasi regional/internasional seperti FAO, NACA, dan SEAFDEC untuk memberikan klarifikasi dan membahas masalah-masalah teknis untuk direkomendasikan kepada ASWGFi. Selanjutnya rapat menyarankan bahwa AFCF harus fokus pada diskusi kebijakan terkait isu-isu perikanan strategis yang muncul di kawasan ASEAN

 

 

Dalam pertemuan, semua Negara Anggota ASEAN yang menjadi Lead Country untuk masing-masing Cluster melaporkan perkembangan AFCF work plan (2013-2015). Sebagai Lead Country untuk Cluster IUU Fishing, Indonesia menyampaikan upaya pemberantasan kegiatan IUU Fishing baik di tingkat nasional maupun tingkat regional bersama negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Di tingkat nasional, dalam rangka memerangi IUU Fishing, Indonesia telah melakukan upaya dalam memperkuat sistem Monitoring, Control, and Surveillance (MCS),  termasuk berbagai kegiatan pelatihan penguatan kapasitas inspektur pengawas yang telah dilakukan dan yang sedang diusulkan melalui SEAFDEC. Sedangkan pada tingkat regional, Indonesia sebagai Sekretariat Regional Plan of Action (RPOA) telah berupaya untuk melakukan sosialisasi kegiatan perikanan yang bertanggung jawab dan implementasi kerja sama terhadap pelaksanaan FAO Port State Measures (PSM), Pembentukan jaringan Monitoring, Control, and Surveillance (MCS) regional, dan perumusan kerangka kerja untuk model Pengelolaan Perikanan di Asia Tenggara.

 

Pertemuan sepakat bahwa pada pertemuan AFCF di masa mendatang, agenda akan siapkan oleh Interim Sekretariat dengan panduan dari Sekretariat ASEAN, dan akan disampaikan kepada AMS untuk mendapatkan masukan lebih lanjut. Pertemuan telah mengidentifikasi isu-isu untuk dibahas dalam agenda pertemuan AFCF selanjutnya, sebagai berikut:

  • Fishing Capacity & Zoning System;
  • Securing Sustainable Small-scale Fisheries (with reference to FAO voluntary guidelines on Small-scale fisheries);
  • Resource Rehabilitation/Enhancements;
  • Impact of Climate Change to Fisheries and Aquaculture;
  • Combating IUU Fishing (Flag State Guidelines, Port State Measures, etc.);
  • Traceability of Fisheries and Aquaculture Products.

 

Pertemuan menyepakati bahwa Indonesia akan berperan sebagai koordinator untuk pembahasan isu Combatting IUU Fishing dan Traceability of Fisheries and Aquaculture Products.

 

 

 

Login to post comments